Growth

Siang ini saya berkesempatan mengisi sesi kuliah umum di Fakultas Ilmu Komputasi Universitas Telkom. Jujur dalam menyiapkan materi cukup bingung. Setelah mencoret beberapa topik, akhirnya saya memutuskan mengambil tema growth, alis pertumbuhan. Tema ini menurut saya cocok untuk mahasiswa, karena growth merupakan salah satu alasan saya mendirikan dan mengembangkan Rekadia.

Seperti tanaman, setiap pribadi memiliki “tanah” yang paling cocok untuk growth. “Tanah” tersebut bisa wirausaha, bekerja di korporat, bekerja di startup, menjadi PNS, dan lain-lain. Ketika kita growth, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan berkontribusi untuk orang di sekitar kita. Continue reading Growth

GnuCash Web-based Report untuk Project Expense

GnuCash adalah software accounting yang dipakai di kantor saya. Menurut saya software ini bagus banget, sudah menyediakan hampir semua fitur yang berhubungan dengan accounting. Ditambah dokumentasi yang lengkap dan mudah dibaca.

tutorial-01

Ada 1 fitur yang kami perlu dan belum tersedia di GnuCash, yaitu report pengeluaran per proyek. Kami mempunyai account Expense/Proyek, dan setiap expense kami berikan tag sesuai dengan proyek yang terkait dengan expense tersebut. Misalnya [project x] makan siang 30.000.

Untuk menampilkan report per proyek, akhirnya kami membuat website terpisah yang membaca data dari csv yang dihasilkan GnuCash. Website bisa diakses di projectfinance.azurewebsites.net. Username: test, password: test.

Kalau perusahaan Anda menggunakan GnuCash dan mau memanfaatkan website ini, silakan tinggalkan nama dan alamat email di komentar. Nanti kami akan membuatkan username/password untuk Anda.

Rekadia

Excited, tahun 2014 dibuka dengan beberapa perkembangan di perusahaan kami. Sebelumnya kami mengambil nama Licht, dari bahasa Belanda yang artinya cahaya. Awal tahun ini kami memutuskan untuk rebranding menjadi Rekadia.

Rebranding tentunya bukan sekedar ganti nama. Kami memiliki visi yang baru, seorang shareholder yang baru, dan kantor baru di Jakarta. Kami memfokuskan bisnis di bidang pengembangan sistem IT perusahaan. Sebelumnya apa saja dikerjakan dari web, ecommerce, sistem IT, dll.

Dengan semua perkembangan ini harapan kami untuk perusahaan bisa lebih berkembang. Saya pribadi berharap bisa terus meningkatkan kapasitas sebagai leader dan pengusaha.

2014 here we come!

Bacaan di Waktu Kosong

Saat ini ada 2 website yang sering menjadi tujuan saya kalau: (1) ingin mengisi waktu kosong yang sebentar dan (2) ingin mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat. Dua website tersebut adalah techcrunch.com dan entrepreneur.com. Kalau 9gag hanya memenuhi poin (1) ha ha ha…

Techcrunch isinya lebih ke perkembangan perusahaan IT dan startup, terutama di Amerika dan Eropa. Entrepreneur.com banyak membahas manajemen dan self development.

Salah satu tips yang saya dapat dari Entrepreneur.com hari ini adalah tips mengisi waktu kosong yang sebentar. Seringkali waktu kosong itu saya manfaatkan untuk membalas email. Ternyata hal ini tidak disarankan, apalagi dalam membalas email penting. Membalas email sebaiknya di waktu yang fokus, bukan di sela-sela kegiatan, supaya isinya bisa lebih baik.

Waktu kosong yang singkat bisa dimanfaatkan untuk fun (menonton video, main game, dll) atau menambah ilmu (membaca buku, browsing), sehingga waktu 5-10 menit di tengah kemacetan atau di ruang tunggu tidak menjadi sia-sia.

Artikel asli bisa dicek di http://www.entrepreneur.com/article/229772.

Summary Rework, Jason Fried

Saya baru selesai membaca buku Rework, yang ditulis oleh Jason Fried. Jason Fried adalah pendiri 37 signals, salah satu produknya Basecamp, mungkin Anda pernah gunakan.

rework-jason-fried

Rework memberikan pandangan yang lain tentang bisnis. Banyak ide yang berbeda dengan pandangan umum, misalnya tentang workaholism, jumlah karyawan di perusahaan, perencanaan jangka panjang, press release, dan lain-lain. Pribadi, saya merasa isi buku rework sangat applicable untuk perusahaan startup.

Summary dari isi buku ini bisa dibaca di bawah. Continue reading Summary Rework, Jason Fried

4 Strategi Membangun Bisnis

Sore ini saya mengobrol dengan Dicky Sukmana dari Marketbiz / @infobandung / Invictus / etc. Ada beberapa poin menarik yang disampaikan Dicky, dalam kita membangun bisnis.

1. Spesialisasi
Perusahaan yang menyatakan diri memiliki spesialisasi, memiliki nilai tambah di mata client. Misalnya ada restoran yang mau membuat program billing, tentu memilih PT A yang spesialis program restoran, daripada PT B yang membuat program apapun.

2. Realistis
Oke.. Saya punya PT A yang menyatakan spesialis program restoran. Ada tawaran proyek program apotek, apakah serta merta ditolak? Kita realistis melihat kondisi, kalau memang memungkinan dikerjakan – apalagi kas menipis – dikerjakan saja. Tapi sebaiknya tidak perlu dicantumkan di website.

3. Petakan bisnis
Kita mau masuk ke satu pasar, misalnya jasa pembuatan program restoran. Perlu berapa client untuk survive? Siapa saja potential client?

4. Faktor kali
Sebaiknya membuat program yang memiliki faktor kali. Misalnya program untuk distro bisa dijual berulang kali dengan modifikasi yang minim.

Visi dan Uang dalam Bisnis

Visi itu penting, kita sering mendengar pernyataan ini. Kalau kita punya perusahaan, mungkin visi nya “mulia”, misalnya mensejahterakan masyarakat desa. Mungkin juga visi nya “kurang mulia”, misalnya menjadi media paling terintegrasi se-Asia Tenggara.

Apa pun visi perusahaan kita, sebaiknya tetap memperhatikan sisi “uang” nya. Kenapa? Karena kita membuat perusahaan, bukan yayasan.

Diyanto Imam, venture capitalist, pernah bilang ke saya kalau orang berbisnis ujung-ujung nya melihat faktor uang. Awalnya saya skeptis, yang penting visi dan passion dalam membangun perusahaan.

Belakangan saya menyadari kebenaran perkataan Pak Diyanto. Faktor uang perlu diperhatikan, demikian juga visi dan passion. Visi mulia tapi tidak ada uang nya, belum lah bisa disebut bisnis. Tapi jangan juga demi mengejar uang menghalalkan segala cara.

The Long Tail

Dalam perjalanan ke Bogor kemarin, saya membaca buku ‘The Long Tail’ karangan Chris Anderson untuk mengisi waktu sepanjang perjalanan. Sudah beli buku ini lumayan lama, tapi belum sempat dibaca. 2 x 2.5 jam perjalanan pulang pergi lumayan bisa menghabiskan 4 bab. Poin-poin yang dibahas pada buku ini sangat menarik.

cover_1

Awalnya masyarakat terkotak-kotak karena faktor geografi. Ketika mulai ada televisi dan radio (dalam jumlah terbatas), manusia mulai memiliki selera masal. Semua orang mendengarkan Elvis, semua orang menonton pertunjukan televisi yang sama. Saat ini sudah ada internet, kita bisa mengakses informasi apapun yang kita mau, sehingga masyarakat mulai kembali terkotak-kotak, tapi berdasarkan preferensi pribadi.

Masyarakat yang terkotak-kotak disebut sebagai niche. Jumlahnya tidak banyak, tapi ada. Komoditas masal, alias hit, juga tetap ada. Tapi saat ini gabungan niche memiliki nilai yang besar. Misalnya musik-musik niche dalam format digital yang hanya terjual sedikit per bulannya, jika dijumlahkan bernilai 1:3 dengan musik hit. Musik niche dalam jumlah banyak inilah yang disebut dengan Long Tail, alias ekor panjang.

Ada 3 pilar yang menopang berjalannya bisnis ‘The Long Tail’.

1. Produsen yang banyak. Misalnya dengan adanya PC, banyak orang bisa membuat lagu digital.

2. Produk niche bisa didistribusikan ke konsumen. Lagu digital bisa dengan mudah didistribusikan melalui media internet. Meskipun hanya terjual 1 atau 2, tidak membebani biaya distribusi.

3. Mengenalkan produk niche ke konsumennya. Misalnya lagu digital niche dengan sedikit penggemar dapat dikenalkan melalui rekomendasi di website atau aplikasi.

Penasaran dengan The Long Tail? Yuk beli bukunya 😀

Setia

Saya ingat quote dari seorang teman, “Setia dalam perkara yang kecil”. Teman saya dulu anggota UKM di kampus, masuknya telat, awalnya tidak ada jabatan di UKM tersebut. Dari babantu, jadi pembantu umum, akhirnya dipercaya menjadi ketua UKM. Kuncinya setia dalam perkara yang kecil, hasilnya dipercaya dengan tanggung jawab yang besar.

Tidak mudah untuk saya setia dalam perkara yang kecil. Kadang saya menggampangkan hal yang sudah rutin, sering dikerjakan, sehingga akhirnya menurunkan standar saya. Misalnya ada client yang kontak. Di awal bisnis mungkin merespon dengan cepat, masih semangat 45 dengan peluang yang terpampang di depan. Sambil berjalanannya bisnis, client bertambah, kesibukan bertambah, standar kita bisa turun, “ah dipending dulu deh sebentar”.

Setia dalam perkara yang kecil tidak mudah. Perlu disiplin, disiplin, disiplin. Tapi reward nya, menjanjikan!

Kerja Sama Pengembangan Produk

Sebagai programmer, kadang kita bingung bagaimana bentuk kerja sama pengembangan produk dengan pihak lain. Misalnya Pak RDN punya ide membuat website marketplace kerupuk, lalu menawarkan kerja sama: dia sebagai marketing dan kita programmer sebagai pembuat website nya. Apakah masing-masing pihak investasi di awal? Apakah programmer dibayar? Kalau dibayar, berapa?

Seorang teman memberikan alternatif kerja sama dalam pengembangan produk, dari sisi programmer, khususnya kalau kondisi belum memungkinkan investasi di awal. Sebagai programmer, bisa menawarkan website yang basic untuk Pak RDN. Misalnya pakai wordpress template plus plugin-plugin yang sudah ada. Kalau memang Pak RDN idenya bagus dan bisa eksekusi, seharusnya dengan website yang basic sudah bisa jualan.

Karena menggunakan website basic, pihak programmer bisa memberikan FREE dulu, sambil melihat komitmen dan prospek ide Pak RDN. MoU nya bisa mengikat Pak RDN supaya menghubungi kita kalau memerlukan pengembangan website. Ketika bisnis sudah berjalan dan memerlukan website yang lebih canggih, di sana programmer bisa menawarkan kerja sama dengan pembagian kepemilikan.