HKI untuk Kolateral dan Modal Ventura

Sebagai pembicara pertama, Mr. Hansueli Stamm, seorang praktisi HKI yang berbasis di Swiss, menyampaikan beberapa poin yang menarik berkenaan dengan HKI. Secara ekonomis, HKI merupakan aset yang bersifat skalabel dan tidak mengalami depresiasi. Sebanyak apapun digunakan, nilai HKI tidak berkurang, bahkan bertambah seiring meningkatnya nilai dari suatu merk. Namun, betapapun besarnya nilai HKI, nilai tersebut tidak dapat dimanfaatkan jika tidak disertai dengan aset pendukung, misalnya: teknologi, modal, SDM, dan fasilitas produksi.

Terdapat dua metoda implementasi permodalan yang memanfaatkan HKI, yaitu jaminan pinjaman alias kolateral, dan security assignments. Permodalan dengan HKI sudah diterapkan di dunia internasional, meskipun saat ini masih sangat terbatas. Beberapa kendala yang umum terjadi adalah sedikitnya data transaksi permodalan yang dapat dipelajari dan motivasi yang rendah dari pemberi pinjaman untuk mendukung model bisnis yang baru. Continue reading HKI untuk Kolateral dan Modal Ventura

Uang

Pagi ini gue joging di Sabuga, kebetulan ketemu Andoko, CEO PT Data Aksara Sangkuriang (Daksa). Ngobrol ngalor-ngidul, salah satunya tentang produk retail vs produk customizable di bidang IT. Istilah lain dari produk retail itu consumer web, semacam twitter, facebook, detik dll. Produk customizable umumnya ditujukan untuk perusahaan, dan dalam implementasinya perlu kustomisasi terhadap produk nya, misalnya SAP. Istilah produk retail dan produk customizable mungkin kurang baku, asal mengerti maknanya saja.

Daksa konon ada rencana untuk membuat produk customizable. Gue terpikir statemen dari seorang investor, ‘produk customizable itu income dan effort nya linear’. Maksudnya semakin besar income, maka effort yang dikeluarkan juga bertambah secara linear. Berbeda dengan produk retail, yang umumnya pertambahan income dapat jauh melebihi pertambahan effort yang dikeluarkan. Itu salah satu alasan investor tersebut prefer berinvestasi di produk retail.

More or less, Andoko setuju dengan statement tersebut, meskipun tentunya ada buanyak banget kemungkinan model bisnis di produk retail maupun produk customizable. Tapi… masalah income/effort ga segitunya kok. 2-2 nya bisa menghasilkan income. So… sebaiknya kita membuat apa yang kita inginkan, bukan terpatok pada income/effort saja.

Well… ini cuma obrolan santai di pagi hari. Pastinya ada pakar yang lebih ahli mengenai produk di bidang IT.

Reliability Modelling Balongan

Finally, gw balik lagi ke Bandung setelah 2 hari bermalam di Balongan, dekat Indramayu. Di Balongan gw dan tim men-deploy aplikasi Reliability Modelling untuk Pertamina RU-VI.

Sempat ada beberapa problem di server, yang paling ribet Yii gagal connect ke SQL Server dan PHP di server gagal mengeksekusi file .exe. Untungnya masalah Yii dan SQL server sudah pernah dialami sebelumnya jadi bisa diselesaikan dengan segera. PHP yang gagal mengeksekusi file .exe sampai sekarang masih belum ditemukan solusinya. Sementara file .exe dipanggil menggunakan task scheduler setiap 2 menit. Selasa akan ke Balongan lagi, semua sudah harus ada solusinya! Hehe…

Apa itu Reliability Modelling? Mungkin akan diceritakan di post-post berikutnya 😀

Product Development

Hari ini gw berkesempatan ikut seminar Product Development yang diselenggarakan komunitas if-association. Seminar diadakan j1-3 di ruang rapat Labtek V ITB, dengan pembicara Pak Budi Raharjo. Tadinya sempat sedikit malas gara-gara weekend, untungnya bisa memantabkan tekad untuk tetap datang ke acaranya :D.

Tahap pertama dalam membuat produk adalah why, mengapa produk ini dibuat. Berdasarkan penuturan Pak Budi, ingin tenar bukan alasan yang baik untuk membuat produk, karena kita dapat menjadi tenar via cara yang lebih mudah seperti berbuat onar hahaha… Dan produk sebaiknya akan berguna dan digunakan oleh 1 orang, yaitu diri kita sendiri.

Ketika ide produk sudah ada, produk tersebut harus dibuat dengan hati dan mempertimbangkan user experience. Percaya tidak percaya, apa yang dibuat dengan hati akan dirasakan oleh pengguna produk tersebut. Ekstrimnya, kalau orang bisa menangis gara-gara membaca buku, mengapa orang tidak bisa menangis gara-gara produk yang kita buat? Masuk akal…

Peluang (saja) bukanlah motivasi yang baik untuk mengembangkan produk. Gw pernah mengalami kasus seperti ini. Gw dan teman-teman melihat peluang yang menarik, lalu mencoba mengembangkan produk dotcom dari peluang tersebut. Well… keadaan tidak seindah yang diharapkan, meskipun peluang seperti sangat jelas, tetap ada kendala yang menghambat untuk produk dapat digunakan. Karena produk dibuat karena peluang (saja), gw tidak memiliki passion, tidak memiliki tujuan yang kuat untuk produk tersebut, sehingga ketika ada masalah gw dan teman-teman mudah untuk menyerah. Sampai sekarang produk yang sudah 1/2 jadi masih dipeti-es kan. Wajar lah ya berbuat salah 😀 asal tidak diulangi lagi saja hehe…

Seminar ini ternyata masuk juga di blog nya Pak Budi http://rahard.wordpress.com/2011/11/26/futsal-ngeband-startup/.

Important Things for Company and Leader

Few days ago I met with Arief Widhiyasa, my senior in Informatics Engineering ITB and CEO in Agate. Agate is one of the biggest game development companies in Indonesia, established in 2009 and currently employs 46 employees. I was very excited since I had planned to meet him long before. There are only two simple questions in my mind: what is the most important things for company and what is the most important things for leader.

We met at Resep Moyang restaurant in Jalan Cikutra, Bandung, comfortable restaurant with reasonable price, but too few waiters IMHO. After we put our food orders, we started our conversation. My two questions ended with three fundamental questions from him: why you start your company? why you take responsibility as a leader? what is your personal dream?

As an entrepreneur, we should do business according to our personal dreams, what we want mostly to contribute to world. When we start our business with partners, the business should be align with each partner personal dreams. When we recruit people, he/she should have a dream similar with company’s dreams.

These three questions keep spinning in my head, and I look for further information through Internet and books. I read http://www.startwithwhy.com as recommended by Arief. I read Paul Cuelho’s The Alchemist and re-read Your Job is Not Your Career. I won’t give up until I find the answers!

[summary] Bulletproof Startup part 3

Summary dari artikel Bulletproof Startup karangan Michael V. Cope, lanjutan dari Bulletproof Startup part 2.

PHASE FOUR LAUNCH THE PRODUCT

Rule of thumb: 20 employees, 60% untuk pengembangan produk dan engineering, sisanya management, sales, dan marketing
tools:
1. pbx phone system
2. business process s/w: netsuite / salesforce

STEP 1 BUILD A NEW BOARD OF DIRECTORS

-> expand network and create perfect brain trust
Gabungkan investor, contact, backer de dalam board of directors
BoD setidaknya memiliki 1 representatif dari funers
Angel investor biasanya tidak meminta kursi di BoD, tapi VC biasa meminta
Anggota board lain: orang yang mengerti bisnis, pengalaman operasi praktis, dan dapat berhubungan dengan konsumen potensial
Anggota board sebaiknya menerima paket ekuitas yang sama dengan pekerja level direksi
“the people on my board are people i would love to hire but could never afford” Continue reading [summary] Bulletproof Startup part 3

[summary] Bulletproof Startup part 2

Summary dari artikel Bulletproof Startup karangan Michael V. Cope, lanjutan dari Bulletproof Startup part 1 – Establish a Company.

PHASE TWO PROTOTYPE THE PRODUCT

tunjukan prototipe ke >12 konsumen dan investor potensial yang dapat memvalidasi ide, mendefinisikan fitur utama, dan mengarahkan pengembangan produk
tool:

  1. spec-document software
  2. development server
  3. collaboration tools
  4. voip calling service

Continue reading [summary] Bulletproof Startup part 2

[summary] Bulletproof Startup part 1

Belum lama ini gw baca artikel yang keren banget judulnya Bulletproff Startup karangan Michael V. Copeland. Ada 4 phase dalam pengembangan startup, dan di post ini gw bakal share summary dari phase 1, yaitu Establish a Company.

[summary]

persentase keberhasil startup di amerika

  • 1/3 berhasil
  • 1/3 balik modal
  • 1/3 gagal

penyebab kegagalan perusahaan

  • target market yang tidak tepat
  • misguided executive leadership

PHASE ONE: ESTABLISH A COMPANY

STEP 1 STRESS-TEST YOUR BIG IDEA

-> debug ‘n perfect business brainstorm
Bertanya ke 12 orang yang memiliki expertise pada pasar yang akan dimasuki
Mencari flaw dari ide
What your company will sell

Continue reading [summary] Bulletproof Startup part 1

Visi dalam Pekerjaan

Have you heard about vision and/or mission? I bet you have. Banyak orang-orang hebat menekankan pentingnya visi buat gw, salah satunya karena visi adalah tujuan kita diciptakan di dunia. Misalnya, handphone mempunyai visi untuk memfasilitasi orang berkomunikasi jarak jauh, dan akan sangat menjadi sia-sia ketika handphone itu dipakai untuk mengulek cabe. Demikian juga hidup kita, kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita senasib dengan handphone yang berakhir di coet batu.

Aspek visi sangat luas, dan tentunya tidak akan selesai dibahas dalam satu posting (dan gw merasa tidak terlalu kompeten untuk membahasnya juga). Gw coba berbicara tentang visi dalam bentuk yang paling sederhana: visi dalam pekerjaan. Well, pekerjaan adalah topik hangat buat anak-anak angkatan gw yang (harusnya) wisuda tahun ini.

Kebetulan gw membaca sebuah artikel yang menarik di http://m.pikiran-rakyat.com/node/124021. Artikel ini bercerita tentang Nandang, Peneliti Madya BPSNT Jabar, yang bersama tim nya meneliti batu prasasti di Kamp. Cimaung. Nandang memberikan satu statement yang nendang, ‘Namun tunggu punya tunggu jangankan penelitian perhatian saja dari dinas atau instansi terkait tidak ada’. Gw mencoba mengingat-ingat, rasanya bukan kali ini saja orang disulitkan oleh instansi terkait, apa sih yang salah? Gw menduga, orang-orang instansi tersebut tidak mempunyai visi dalam pekerjaannya, sehingga ketika seharusnya memfasilitasi orang, mereka malah asyik bermain dengan cabe di coet batu kesayangannya. They don’t do what they are supposed to do!

Sedikit hasil perenungan ini memperingati gw di saat gw akan memasuki dunia kerja, supaya gw tetap mempunyai visi dalam pekerjaan gw. Supaya gw senantiasa sadar apa tujuan gw bekerja dan apa fungsi gw buat masyarakat di sekitar gw.

Forum Nasional Kewirausahaan

Kemarin gw datang ke seminar  yang bertajuk “Forum Nasional Kewirausahaan”, detail acaranya bisa dilihat di http://renardwidarto.wordpress.com/2010/05/27/forum-nasional-kewirausahaan/.  Keynote speaker nya menteri perdagangan, Ibu Mari Elka Pangestu, dan ada pembicara-pembicara lain yang ga kalah terkenal seperti Sandiaga S Uno, Elang Gumilang, etc. FNK diadain di Gedung Kementrian Perdagangan, Jln Ridwan Rais 5 Jakarta.

Gw ke sana bareng temen gw, Brian, berangkat dari Bandung jam 06.00 naik travel Cit*trans. Berangkat jam 06.00 tuh kesalahan besar, karena ternyata di pintu tol macettt banget, akhirnya baru nyampe Jakarta jam 09.30 padahal FNK nya udah mulai dari jam 09.00. Turun di pool Tomang, dilanjutin naik busway modal nekat dan niat hemat (soalnya gw ‘n Brian bisa dibilang buta daerah Jakarta). Berdasarkan googlemap, Jln Ridwan Rais 5 tuh ada di deket monas, jadi gw naik busway arah Blok M berhenti di halte Monas. Setelah tanya petugas ‘n telpon panitia, ternyata untuk ke Gedung Kementrian Perdagangan tuh harusnya naik busway ke arah Gambir. Gw naik busway lagi,  alhasil baru sampai di tempat FNK jam 11, TELAT 2 JAM!!! Kira-kira gini gambar nya

peta nyasar

Continue reading Forum Nasional Kewirausahaan