Eldest

Beberapa hari ini saya istirahat di rumah. Mengisi waktu luang, saya membaca Eldest, seri kedua dari trilogi Inheritance karangan Christopher Paolini. Saya membaca Eragon lebih dari empat tahun yang lalu. To my surprise, saya tidak kesulitan melanjutkan membaca Eldest karena ternyata sebagian besar cerita Eragon masih menempel di ingatan saya.

200px-Eldest_book_cover

Selain alurnya yang menarik, Eldest memberikan inspirasi kepemimpinan melalui Roran, dan kebijakan Eragon dalam mengambil keputusan karena posisi Eragon yang penting sebagai satu-satunya Rider.

(spoiler)

Pembaca buku ini akan dikejutkan dengan matinya Ajihad pada awal novel. Pimpinan Varden itu meninggal di dalam serangan Urgal, yang ternyata pada akhir novel diketahui tengah dimanipulasi oleh si kembar. Kematian Ajihad berpotensi memicu konflik politik di dalam Varden, di tengah intensnya perseteruan dengan Empire. Beruntung konflik dapat diredam melalui serangkaian keputusan yang tepat dari Eragon dan Nasuada. Ya, putri tunggal Ajihad menjadi penerus kepemimpinan di Varden.

Alur yang menarik juga di dalam seri Eldest ini adalah perkembangan karakter Roran. Sepupu Eragon yang pada awalnya tidak kelihatan taringnya, berhasil unjuk gigi pada buku ini dan menjadi pimpinan Carvahall. Serangkaian kejadian berawal dari invasi Razac, sampai diculiknya Katrina, memaksa Roran untuk membawa dirinya ke depan memimpin desanya.

Sampai akhir novel belum ketahuan bagaimana nasib Varden dan Surda yang berhasil memukul mundur prajurit Galbatorix. Saya penasaran untuk membaca kelanjutan ceritanya. Yang mengejutkan, Christopher Paolini baru berusia 21 ketika menyelesaikan Eldest. Usia yang begitu muda, tapi sudah bisa membawa kedalaman karakter di dalam tokoh-tokohnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *