Perbandingan Sistem Kerja Sama Taksi

Saya senang mengetahui bagaimana macam-macam bisnis bekerja. Di perjalanan dari Pasteur ke rumah, saya iseng ngobrol dengan pengemudi taksi GR.

Ternyata, perusahaan taksi memiliki sistem kerja sama masing-masing. Berdasarkan cerita pak supir, taksi GR menerapkan sistem setoran. Setiap hari setor 300.000 rupiah, bensin ditanggung sendiri, sedangkan kerusakan minor pada mobil dapat diperbaiki pada bengkel perusahaan.

Berbeda dengan BB, kalau BB menerapkan sistem bagi hasil. Ketika pemasukan argo mencapai (kurang lebih) 650.000 rupiah, pengemudi mendapat 80.000. Kelebihannya biaya bensin ditanggung oleh BB.

Kalau “taksi” UB yang sekarang ini lagi hits bagaimana? Info dari seorang partner UB, konon UB menerapkan sistem komisi 30% omset untuk UB. Semua biaya operasional (bensin, servis, dll) tentunya menjadi tanggung jawab partner Uber.

Kata pak supir GR, kondisi saat ini sedang sulit. Seringkali ada supir yang tidak bisa membayar setoran, padahal konsekuensinya bisa dilarang beroperasi. Beliau tidak menjelaskan detailnya, tebakan saya sih karena kompetisi dari ojek dan “taksi” berbasis aplikasi.

Bagaimana dengan Anda? Penggemar BB, GR, atau layanan transportasi berbasis aplikasi?

Disclaimer: informasi pada tulisan ini berasal dari obrolan ringan, bukan riset market serius. Silakan dikoreksi jika terdapat kesalahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *