Trekking Gunung Rakutak

Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman menjajal Gunung Rakutak. Gunung Rakutak dipilih atas rekomendasi guide, dan hasil browsing yang tampaknya menjanjikan.

Pendakian Rakutak kita naik di Ciparay, bisa turun lagi di Ciparay, atau tembus ke Kamojang melewati Danau Ciharus yang legendaris. Rute Ciparay – Ciparay kita bisa tektok, sedangkan untuk Ciparay – Kamojang kita camp di Rakutak atau Danau Ciharus. Kami memilih rute tektok Ciparay – Ciparay. Praktis cukup membawa daypack saja hahaha…

Kami berangkat dari Bandung sekitar jam 6.30 pagi, sampai di kaki Gunung Rakutak sekitar jam 9.00. Kami menitipkan kendaraan di dekat rumah Kang Agus, ranger HIMPALA Gunung Rakutak.

Jika mendaki Rakutak di siang hari, kita akan dihajar dengan teriknya matahari. Sangat disayangkan daerah kaki Gunung Rakutak gundul, dibuka menjadi kebun oleh warga. Terik matahari cukup menguras stamina.

Sekitar jam 1-an kami sampai di Tegal Alun. Di sini kami beristirahat sambil bersantap siang. Tegal Alun dapat dimanfaatkan untuk camp, meskipun tidak terlalu luas. Usai istirahat, kami beranjak ke puncak Rakutak. Gunung Rakutak memiliki beberapa puncak, antar puncak melewati punggung gunung. “Punggung gunung adalah khas nya gunung Bandung”, ujar Kang Adis guide kami.

Perjalanan melewati punggung gunung sangat mengerikan untuk saya yang takut ketinggian. Jalur sempit tidak sampai 1 meter, di kanan dan kiri lembah gunung. Kalau sampai salah melangkah tidak ada ampun. Di tengah perjalanan ada satu lokasi yang tanahnya sudah longsor, sehingga kita harus mapay batu besar untuk menyebrang.

Selama perjalanan dari kaki gunung sampai puncak, kami tidak bertemu satu orang pun. Akhirnya di puncak kami bertemu satu grup yang sedang camp. Sepertinya banyak pendaki memilih naik sangat pagi atau sore untuk menghindari panas terik siang hari.

Sekitar jam 3 kami mulai turun gunung. Sewaktu turun, kami banyak bertemu pendaki yang naik. Kami sampai di kaki gunung sekitar jam 7 malam. Rasanya capek dan puas sekali menjajal Gunung Rakutak selama 10 jam.

Pelajaran kami dari perjalanan kali ini, sebaiknya membawa air minum minimal 2-3 lt, mengingat di Rakutak tidak ada sumber air bersih. Pendaki juga disarankan menggunakan masker, karena banyak jalur pendakian yang berpasir. Untuk pendaki yang ingin camp, sebaiknya berangkat lebih awal karena daerah camp di Rakutak tidak terlalu luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *