Dunia Malam Cibadak, Pindang Patin dan Nenek Peramal

Ok… so makan malam hari ini cukup bizarre. Kami sekeluarga makan di Cibadak, mau mencicipi Pindang Patin punya teman adik saya yang baru buka.

Di pertengahan bersantap, ada nenek Chinese, saya rasa berusia sekitar 70 tahun melewati lokasi kami. “Baru buka ya? Semoga lancar, ada niat ada jalan”, kurang lebih begitu nenek tersebut menyapa. Seorang om di roda sebelah, sebut saja Om Aliong, dengan jahilnya menimpali, lalu terjadilah cekcok ringan antara nenek dan Om Aliong.

Nenek tersebut ternyata menjual lukisan. Lukisannya diletakan entah di ember atau karung yang dia bawa. Dia perlihatkan lukisan-lukisan tersebut, harganya sangat murah Rp. 30.000. Adik saya yang alumni seni rupa curiga modal bahannya saja lebih dari itu. Akhirnya kami membeli satu lukisan. Continue reading Dunia Malam Cibadak, Pindang Patin dan Nenek Peramal

Warung Penyet Bu Kris Fatmawati

Minggu lalu saya mencicipi salah Warung Penyet Bu Kris, salah satu lokasi tujuan kuliner di Fatmawati, Jakarta Selatan. Alamat tepatnya di Jalan RS Fatmawati Raya No. 37D. Anda bisa melihat lokasi tepatnya di Google Maps, cukup ketikan saja “Warung Bu Kris, Fatmawati, Jakarta”.

Warung ini ternyata banyak penggemar. Sedari saya datang dari sore sampai malam, selalu ada saja tamu yang mengisi meja di tempat ini, padahal hari biasa.

Menu yang disajikan di Warung Bu Kris beragam, sebagian besar dimasak penyet dengan pilihan tingkat kepedasan yang dapat disesuaikan dengan preferensi kita. Dengan teman, kami memesan iga penyet, ulet-ulet tempe, tempe penyet, terong penyet, dan teri Medan goreng.

Warung Bu Kris Fatmawati - chandra.my.id

Seperti dapat Anda lihat di foto, hampir semua menu yang kami pesan dilengkapi sambal merah, kecuali teri Medan goreng. Kami memesan tingkat kepedasan sedang, jadi pas rasa pedasnya. Membayangkan rasa pedas sambel penyet di Warung Bu Kris bisa membuat air liur menetes.

Semua menu yang kami pesan rasanya enak. Iga penyet nya agak overprice, isinya sedikit sekali. Ditengah gempuran pedasnya sambal penyet, teri Medan goreng yang asin menjadi variasi rasa di lidah. Rasa pedas bisa dipadamkan dengan Es Aloe Vera Cao yang dingin.

Harga yang ditawarkan di Warung Bu Kris cukup bersahabat. Rata-rata belasan ribu, kecuali iga penyet 33rb. Warung Bu Kris menurut saya recommended untuk pecinta kuliner pedas.

Jualan Bebek? Jangan Lupa Lalab nya

Dalam berbisnis makanan ternyata perlu memperhatikan banyak hal, bahkan lalapan.

Belum lama ini nyokap dan adik mencicipi resto bebek di daerah jalan Jawa. Saya tanya ke nyokap bagaimana rasanya. “Bebeknya enak sih, tapi lalapnya ga segar kaya udah 3 hari an. Ga mau lagi ke sana”, jawab nyokap.

Ternyata lalap, yang modalnya hanya beberapa ribu perak, bisa mempengaruhi kepuasan pelanggan. Pembeli yang tidak puas bisa berakibat tidak kembali lagi.

Ramen Hakata Ikkousha Bandung

Ramen Hakata Ikkousha sudah masuk Bandung. Mulai beroperasi tanggal 27 Desember, Ikkousha terletak di Jl R.E. Martadinata alias Riau, sebelumnya lokasi cafe Plate for Me.

Ramen ini sudah cukup terkenal di kota lain, misalnya Jakarta. Semalam saya datang, ramen sudah banyak didatangi orang, sampai waiting list 7 grup.

Saya mencoba Red Dragon Ramen (kalau tidak salah namanya). Kita bisa memilih jenis mie, saya memilih mie merah. Rasa kuah nya enak, kenyalnya mie juga pas. Harganya termasuk mahal, ramen 55.000 – 58.000 / porsi.

Pelayanan di Ikkousha baik. Ocha refill, diisi langsung oleh pelayan tanpa perlu kita minta. Cerita ramen dibawakan dengan menarik melalui video, bagaimana passion pendiri Ikkousha, sampai tradisi unik di daerah Hakata, Jepang.

Penasaran? Langsung saja datang ke lokasinya!

Review Cafe Lacamera, Naripan, Bandung

Hari Sabtu kemarin saya mencicipi Cafe Lacamera yang terletak di Jl Naripan Bandung, dekat BeMall. Beberapa kali melewati cafe tersebut sering penuh, jadi penasaran juga.

Suasana cafe enak, nyaman untuk ngobrol-ngobrol. Kelebihan yang lain di tempat ini boleh main kartu hahaha… Saya membawa kartu permainan Resistance, tapi akhirnya urung dimainkan karena peraturannya agak susah untuk dimengerti.

Saya memesan nasi goreng Jalapeno dan Mojito Peach pitcher. Rasa nasi gorengnya biasa saja, tapi lumayan daging ayam bisa diganti dengan yang lain (sapi atau ikan dori). Mojito Peach nya enak, pitcher seharga 75rb bisa dibagi ber-4.

Secara keseluruhan tempat ini recommended untuk nongkrong, tapi jangan terlalu berharap untuk makanan beratnya.

Kantin Rai Sawah Kurung

Salah satu kantin favorit saya di sekitar kantor tuh Kantin Rai. Kantin Rai terletak di Jl Sawah Kurung, ada juga di Jl Ramdan. Biasa sih saya ke yang di Jl Sawah Kurung karena lebih dekat.

Kantin Rai menyediakan aneka sayur pilihan. Menu favorit saya sayur tempe, tumis kacang panjang, sama perkedel jagung. Harga memang lebih mahal dibandingkan warteg, tapi dari kebersihan sepertinya jauh lebih terjamin di sini.

Kalau datang jam 1.30-an, biasa pilihan sayur terbatas karena sudah pada habis.

Mujigae Restoran Korea di Ciwalk Bandung

Mujigae bisa dibilang salah satu resto yang lagi in di Bandung. Mengambil konsep kuliner Korea casual dengan harga yang cukup terjangkau, Mujigae berhasil membuat antrian pengunjung di depan restorannya yang terletak di Young Street Ciwalk.

Sambil menunggu waiting list, kita akan ditemani perempuan berdandan ala Korea yang berpose narsis sambil menyapa kita. Perempuan tersebut adalah model yang ditayangkan di layar seukuran manusia di depan restoran. Lumayan menghibur sambil menunggu sesekali dikedipi genit oleh model tersebut.

Saya bersantap bersama teman di lantai 2. Lantai 2 dipenuhi dengan nuansa Korea melalui 3 layar di bagian atas yang menampilkan film-film Korea dan klip music boyband dan girlband dari negri ginseng. Saya bukan big fans musisi Korea, tapi takjub juga melihat bagaimana mereka enerjik dan kompaknya mereka menari. Ditambah paras yang cantik dan body yang aduhai hahaha…

Sayang saya belum sempat mencicipi makanan, karena waktu ke sana hanya memesan minuman. Kalau tidak salah saya memesan Korean lemon tea, pokoknya yang ada yakult nya. Rasanya oke juga.

Mujigae menurut saya memasuki segmen Korea pada waktu yang tepat, dimana saat ini demam Korea tengah melanda sebagian besar orang Bandung. Restoran Korea yang saat ini ada di Bandung umumnya cukup mahal, seperti Han Kook, Korean House, dsb.

Sumo Ramen Baru Buka, Kurang Siap Menyambut Pembeli

Kemarin saya mencicipi Sumo Ramen di bilangan Burangrang, awalnya dari melihat promo di @Kuliner_Bandung. Katanya ada ramen Korea di Sumo Ramen. Menarik…

Saya dan keluarga sampai lokasi sekitar jam 7 malam. Kerumunan orang yang awalnya kami sangka pengunjung, ternyata kerabat pemilik yang sedang menghadiri syukuran Sumo Ramen. Oalahh ternyata Sumo Ramen di Burangrang baru saja buka.

Kami disuguhi menu oleh seorang Ibu, sepertinya pemilik tempat atau kerabatnya. Ibu tersebut ternyata belum hafal menu, sehingga beberapa pertanyaan kami tidak terjawab. Ketika kami ingin memesan ocha dingin juga ternyata belum tersedia, adanya thai tea saja.

Tidak lama menu yang kami pesan tiba. Dari segi rasa cukup oke, sebanding dengan harga yang dibandrol. Yang agak bikin kecewa ketidaksiapan dari Sumo Ramen dalam melayani pembeli. Kalau baru buka, mungkin sebaiknya jangan woro-woro promosi dulu ya.

Sayana

Sore ini saya mampir ke Sayana, terletak di daerah Pasir Impun. Awalnya saya ingin melihat-lihat lapangan futsal nya, tapi akhirnya berujung mencicipi makanan soalnya pengelola lapangan sedang tidak berada di tempat. Yap… selain lapangan futsal, Sayana juga menyediakan cafe.

Gambar di atas adalah view dari Cafe Sayana. Akses ke lokasi yang kurang bersahabat membuat saya takjub melihat view tersebut. Saya rasa view di daerah Pasir Impun tidak kalah dengan view dari cafe-cafe yang terletak di dago atas. Hanya saja lokasi Pasir Impun cukup jauh dari pusat kota.

Ketika ingin memesan makanan saya terlebih dahulu mencari pelayan cafe yang sepertinya sedang main ucing sumput. Sekitar 5 menit barulah menu sampai di meja saya dengan diawali peringatan, “Makanan yang ada nasi, mi, lele. Minuman yang ada teh manis, jus sirsak, ….”. Tampaknya tidak semua menu ready stock. Saya memesan mie godhog dan jus sirsak.

Mie godhog sangat pas di tengah udara sore Bandung yang dingin. Mie godhog disajikan panas (kalau dingin saya getok juga koki nya), dilengkapi dengan cengek yang membuat nyesss kalau tergigit. Kekenyalan mie pas, cukup empuk waktu digigit dan lebih enak daripada mi instan.

Seusai makan dan menikmati udara Pasir Impun, saya beranjak untuk pulang. Celingak celinguk tidak ada pelayan yang tampak batang hidung nya. Akhirnya saya mencari kasir yang ternyata ada di bagian depan cafe. “Jadi 22 ribu Pak”, kata pelayan. Lohh… berdasarkan perhitungan saya seharusnya mie godhog 11 ribu + jus sirsak 7 ribu jadi 18 ribu. “Harganya sudah naik Pak”, kata kasir, “harga di menu belum diubah”.

Kesan saya untuk cafe ini kurang profesional dan kurang pegawai juga. Kelebihannya rasa enak, view oke, udara adem, harga cukup bersahabat. Kalau habis makan mau kabur juga bisa kayaknya hahaha…

Kopidot Bandung Pagergunung

Kemarin saya mampir ke Kopidot, sebuah cafe yang terletak di Jalan Pager Gunung nomor 13, Bandung. Kopidot terletak di sebelah Grow Giftshop, menempati bangunan yang dulu digunakan oleh Invictus. Tempat Kopidot sendiri tidak terlalu besar, hanya ada sekitar 5 meja. Suasanya di dalam cafe nyaman, enak untuk ngobrol-ngobrol. Udara juga adem mungkin dipengaruhi daerah Pager Gunung yang banyak pepohonan.

Kopidot menyediakan aneka kue dan minuman. Saya mencoba kue Choconana dan White Chocolate Latte atas rekomendasi yang empunya tempat. Tidak salah kalau Choconana menjadi salah satu menu kue favorit di Choconana. Rasa coklat dan pisang membaur, enak apalagi ditambah adanya banana chunk di dalam kue.

White Chocolate Latte juga enak. Kalau kata empunya tempat, salah satu rahasia dan keunggulan Kopidot adalah penggunaan biji kopi yang segar. Biji kopi yang sudah diroast maksimal digunakan dalam 2 hari. Lebih dari itu konon kesegaran biji kopi akan berkurang. Saya yang tidak terlalu mengenal kopi manggut-manggut saja.

Serunya minum kopi di sini, saya mendapat penjelasan tentang sifat biji kopi, cara mengolah, dan perbedaan kopi dari daerah-daerah di Indonesia. White Chocolate Latte sendiri campuran biji kopi yang berasal dari beberapa daerah.

Harga menu di Kopidot sendiri bisa dibilang standar cafe di Bandung. Untuk Choconana dan White Chocolate Latte saya merogoh kocek Rp. 42.000.

Penasaran dengan Kopidot? Pemilik cafe bisa dicolek di twitter @NadddiaG